
Jika setiap manusia mengetahui apa-apa, betapa Allah menyediakan begitu banyak kesempatan untuk menyiapkan sebaik-baiknya bekal. Dalam 24 jam waktu kita, tidak kurang sesungguhnya deretan amalan yang bisa dikerjakan. Hanya saja, kebanyakan manusia, mungkin salah satunya kita, lebih banyak mengutamakan urusan dunianya daripada persiapan menuju akhiratnya.
Betapa Maha Pemurahnya Allah, hanya tersebab niat baik saja sudah dilimpahkan satu pahala kebaikan, meskipun tidak sampai dikerjakan. Jika ada satu pintu dosa terbuka, sesungguhnya Allah menyediakan dua bahkan lebih pintu menuju kebaikan. Persoalan sesungguhnya ada pada masing-masing kita. Sudahkah kita memaksimalkan kesempatan yang Allah sediakan, atau lebih banyak mengabaikan?
Siapa yang tidak ingin dibuatkan oleh Allah rumah kelak di surga-Nya? Jika punya rumah di dunia saja sudah sedemikian bahagianya, sungguh tak terbayangkan betapa indahnya rumah yang dibangunkan langsung oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Imam At Tirmidzi dan An-Nasa’i, dari ‘Aisyah radiyallahu ‘anha,
“Barangsiapa yang tidak meninggalkan dua belas (12) rakaat pada sholat sunnah rawatib, maka Allah akan bangunkan baginya rumah di surga, (yaitu): empat rakaat sebelum dzuhur, dan dua rakaat sesudahnya, dan dua rakaat sesudah maghrib, dan dua rakaat sesudah ‘isya, dan dua rakaat sebelum subuh.
Shalat rawatib ialah shalat sunnah yang dikerjakan sebelum atau sesudah shalat fardhu. Shalat ini seringkali diremehkan sebab kedudukannya yang sunnah, bila dikerjakan mendapat pahala dan bila ditinggalkan tidak berdosa. Disinilah letak keistimewaan sunnah. Meski tidak berdosa jika ditinggalkan, tetapi justeru Allah menyisipkan ganjaran yang teramat indah di setiap amalannya.
Dalam riwayat yang berbeda, Imam Muslim menerangkan dalam hadistnya, dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, “Dua rakaat sebelum shubuh lebih baik dari dunia dan seisinya“.
Dua rakaat sebelum subuh diibaratkan oleh Rasulullah lebih baik dari dunia dan seisinya, kemudian mengapa kebanyakan kita memilih untuk mengikuti hawa nafsu syaitan untuk meneruskan kenyamanan tidur?
Jika dibandingkan, antara waktu yang Allah sediakan untuk istirahat tidur, dengan waktu yang dibutuhkan untuk melaksanakan dua rakaat sebelum subuh, tentu terpaut amat jauh. Tidak malukah kita pada kenikmatan waktu yang dilapangkan oleh Allah, sedang belum juga berupaya menyempurnakan amal ibadah?
Bukan hanya itu, dalam sebuah riwayat Imam Ahmad, Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasa’i dan Ibnu Majah menambahkan, dari Ummu Habibah radhiyallahu ‘anha, “Barangsiapa yang menjaga (sholat) empat rakaat sebelum dzuhur dan empat rakaat sesudahnya, Allah haramkan baginya api neraka.”
Dari beberapa hadist di atas, seemstinya kita dapat mengambil pelajaran, betapa Allah menyediakan kelapangan dalam mengumpulkan amal kebaikan, jika kita benar-benar memahami setiap yang Allah dan Rasulullah perintahkan. Se-sederhana menyingkirkan batu di jalan pun sudah dinilai sebagai pahal kebaikan, apalagi sunnah-sunnah lain yang secara istiqamah ditegakkan.
Sungguh teramat disayangkan, jika kesempatan yang banyak itu kita sia-siakan. Sebab tidak pernah akan tahu berapa lagi sisa waktu hidup di dunia. Jangan menunda, bisa saja sebelum mulai melalukan, waktu kita sudah lebih dulu dicukupkan. Maka bersegeralah berubah dan upayakan yang terbaik untuk bekal di hari kemudian.
Wallahu A'lam
Sumber :ikhtisarislami.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar