Perhatian terhadap kemuliaan pribadi Nabi SAW, sebagaimana yang biasa ditampilkan dalam majelis maulid hari ini, telah dimulai sejak awal kehadiran Islam. Sekalipun banyak pihak menyebut perayaan hari kelahiran Nabi muncul belakangan, tetapi beberapa sumber menyebutkan bahwa perhatian tersebut telah muncul lebih awal sekalipun dengan bentuk yang sangat sederhana. Sebagai contoh adalah hadis berikut:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، قَالَ: جَلَسَ نَاسٌ مِنْ أَصْحَابِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَنْتَظِرُونَهُ قَالَ: فَخَرَجَ حَتَّى إِذَا دَنَا مِنْهُمْ سَمِعَهُمْ يَتَذَاكَرُونَ فَسَمِعَ حَدِيثَهُمْ، فَقَالَ بَعْضُهُمْ: عَجَبًا إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ اتَّخَذَ مِنْ خَلْقِهِ خَلِيلاً، اتَّخَذَ مِنْ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلاً، وَقَالَ آخَرُ: مَاذَا بِأَعْجَبَ مِنْ كَلاَمِ مُوسَى كَلَّمَهُ تَكْلِيمًا، وَقَالَ آخَرُ: فَعِيسَى كَلِمَةُ اللهِ وَرُوحُهُ، وَقَالَ آخَرُ: آدَمُ اصْطَفَاهُ اللَّهُ. فَخَرَجَ عَلَيْهِمْ فَسَلَّمَ، وَقَالَ: قَدْ سَمِعْتُ كَلاَمَكُمْ وَعَجَبَكُمْ إِنَّ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلُ اللهِ وَهُوَ كَذَلِكَ وَمُوسَى نَجِيُّ اللهِ وَهُوَ كَذَلِكَ، وَعِيسَى رُوحُهُ وَكَلِمَتُهُ وَهُوَ كَذَلِكَ وَآدَمُ اصْطَفَاهُ اللَّهُ وَهُوَ كَذَلِكَ، أَلاَ وَأَنَا حَبِيبُ اللهِ وَلاَ فَخْرَ، وَأَنَا حَامِلُ لِوَاءِ الحَمْدِ يَوْمَ القِيَامَةِ وَلاَ فَخْرَ، وَأَنَا أَوَّلُ شَافِعٍ وَأَوَّلُ مُشَفَّعٍ يَوْمَ القِيَامَةِ وَلاَ فَخْرَ، وَأَنَا أَوَّلُ مَنْ يُحَرِّكُ حِلَقَ الجَنَّةِ فَيَفْتَحُ اللَّهُ لِي فَيُدْخِلُنِيهَا وَمَعِي فُقَرَاءُ الْمُؤْمِنِينَ وَلاَ فَخْرَ، وَأَنَا أَكْرَمُ الأَوَّلِينَ وَالآخِرِينَ وَلاَ فَخْرَ.
Dari Ibnu Abbas yang berkata, “Sekelompok sahabat sedang duduk menunggu kedatangan Rasulullah SAW. Lalu ketika beliau keluar rumah hingga sudah dekat dengan posisi mereka, Rasulullah SAW mendengar pembicaraan mereka. Sebagian sahabt berkata, ‘Mengagumkan, Allah menjadikan sebagian makhluknya sebagai kekasihnya. Dia menjadikan Ibrahim sebagai kekasihnya.’ Yang lain berkata, ‘Apa yang lebih hebat mengagumkan dibanding diajak bicaranya Musa. Allah benar-benar bicara dengan Musa.’ Yang lain berkata, ‘Isa adalah kalimat Allah dan ruh-Nya.’ Yang lain berkata, ‘Adam telah menjadi makhluk pilihan Allah.’ Rasulullah menemui mereka dan mengucapkan salam. Beliau berkata, ‘Saya sudah mendengar pembicaraan kalian dan kekaguman kalian. Ibrahim adalah khalilullah, mereka seperti itu. Musa kalimullah, orang yang diselamatkan Allah. Memang seperti itu. Isa adalah ruh dan kalimat-Nya. Memang seperti itu. Adam adalah makhluk yang dipilih oleh Allah. Memang seperti itu. Ingatlah! Saya adalah habibullah tanpa maksud sombong. Saya pembawa bendera pujian pada hari kiamat tanpa kesombongan. Saya orang yang pertama kali memintakan syafaat dan yang pertama kali diterima permohonan syafaatnya pada hari kiamat, tanpa kesombongan. Saya adalah orang yang pertama kali membuka pintu surga, Allah membukanya untuk saya, lalu Dia memasukkan saya ke surga, bersama saya orang-orang fakir dari kalangan Mukminin. Tanpa kesombongan. Saya adalah makhluk yang paling mulia di antara makhluk terdahulu dan makhluk yang akan datang. Tanpa kesombongan. (HR. Al-Tirmidzi).

Hadis di atas diriwayatkan oleh Al-Tirmidzi dan Al-Darimi. Potongan-potongan hadis tersebut juga ditemukan dalam Musnad Ahmad, Abu Ya’la, Al-Dailami, dan Ibnu Najjar. Al-Tirmidzi menilai hadis di atas gharib, yang berkonotasi daif. Abdul Qadir Arnauth dalam tahqiqnya terhadap kitab Jami’ Al-Ushul, mengatakan hadis tersebut daif tetapi memiliki syawahid atau jalur riwayat penguat. Dan memang, dalam potongan-potongan hadis terkait keutamaan Rasulullah SAW, ada yang bernilai hasan atau sahih. Adanya penguat (syawahid) dapat membuat kualitas sebuah hadis daif berubah menjadi lebih kuat, hasan li ghairihi.

Dalam hadis ini, terdapat keterangan bahwa para sahabat berkumpul menunggu kedatangan Rasulullah SAW. Sembari menunggu, mereka mendiskusikan keutamaan-keutamaan para nabi terdahulu. Lalu Rasulullah SAW datang dan memberikan penjelasan tentang keutamaan para nabi tersebut dan juga keutamaan beliau sendiri. Pada akhirnya, majelis tersebut menjadi kegiatan yang penuh puja-puji untuk Rasulullah SAW. Bahkan puja-puji tersebut berasal dari Rasulullah SAW sendiri. Jika sekelompok orang berkumpul lalu memuji-muji Rasulullah SAW dengan sejumlah pujian, maka sebenarnya hal itu telah dilakukan dalam majelis sahabat. Bahkan dipimpin oleh Rasulullah SAW. (M. Khoirul Huda)

Wallahu A'lam
Sumber :harakahislamiyah.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar