
Satu hal lagi yang diangkat Ma’rufin adalah kebenaran konsep bumi bulat berdasarkan petunjuk Nabi Muhammad mengenai arah kiblat di kota Sana’a, ibukota Yaman.
Beberapa bulan sebelum Rasulullah SAW wafat, meletus pemberontakan Aswad al-Insa di Yaman. Pada puncaknya al-Insa, yang mengklaim sebagai nabi baru, dan para pengikutnya berhasil menduduki kota Sana’a (ibukota Yaman).
Untuk mengatasinya Rasulullah SAW mengutus pasukan perintis yang dipimpin sahabat Wabir ibn Yuhannas RA dari kabilah Khuza’a ke Yaman. Tujuan pertamanya adalah menyatukan kekuatan-kekuatan Islam yang tercerai berai di Yaman dan pada akhirnya memadamkan pemberontakan.
Kepada Wabir, Rasululah SAW berpesan:
“Ajaklah mereka beriman. Jika mereka menaatimu tentang hal itu maka aturlah mengenai shalat. Jika mereka menaatimu mengenai hal itu, bangunlah masjid di taman Badzan (Bathan), yang disitu ditemukan sebuah batu asli Gumdan dan arahkan ke sebuah gunung bernama Jabal Dayn.” (HR Thabrani dengan sanad hasan).
Hadits inilah yang menjadi landasan hukum arah kiblat. Secara tersurat hadits tersebut memperlihatkan bahwa di kota Sana’a tepatnya di bagian kota lama dimana taman Bathan berada (yang menjadi bagian dari istana Gumdan), arah kiblat di sini adalah sama dengan arah menuju Jabal Dayn.
Jabal Dayn adalah kerucut vulkanis dorman setinggi 2.900 meter dpl (400 meter dari elevasi kota Sana’a) yang menjadi bagian dari gunung berapi raksasa Harrat Arhab. Jabal Dayn terletak sejauh 20 kilometer dari kota Sana’a. Sementara lokasi dimana taman Bathan dulu berada kini telah menjadi Masjid Jami’ al Kabir atau Grand Mosque of Sana’a, masjid terbesar dan tertua di kota itu sekaligus tempat ditemukannya salah satu manuskrip al-Qur’an yang tertua.
Ilmu falak [berdasarkan konsep bumi bulat] telah membuktikan bahwa bila dari masjid ini ditarik garis lurus ke puncak Jabal Dayn dan garis tersebut diperpanjang hingga hampir 820 kilometer jauhnya, maka ujung garis tersebut akan tepat berada di Ka’bah. Ini sekaligus membuktikan kebenaran sabda Rasulullah SAW tersebut. Arah kiblat di kota Sana’a adalah pada azimuth 326,2°
Bagaimana dengan arah kiblat dalam model Bumi datar? Perhitungan (yang dasar-dasarnya disajikan di sini https://t.co/kIJhxu2oLF) memperlihatkan bahwa arah kiblat model Bumi datar bagi kota Sana’a adalah pada azimuth 320,15°. Atau berselisih 6°.
Sekilas selisihnya kecil, namun sejatinya implikasinya fatal. Saat kita menyejajarkan diri dengan arah kiblat model Bumi datar di kota Sana’a, sejatinya kita tak lagi mengarah ke Jabal Dayn. Ini jelas melanggar ketentuan yang digariskan sabda Nabi SAW di atas. Lebih menyesakkan lagi, saat dari kota Sana’a ditarik garis lurus berimpit arah kiblat model Bumi datar tersebut hingga sejauh hampir 820 kilometer, maka ujung dari garis itu ada di satu tempat di dekat kota ad-Damar (Sudan). Terhadap Ka’bah, tempat tersebut berjarak 650 kilometer jauhnya. Ini jelas menunjukkan bahwa model Bumi datar adalah keliru.
Semoga bermanfaat.
Sumber :blog.al-habib.info
Tidak ada komentar:
Posting Komentar